Senjata Pamungkas Dokter

“tiga senjata pamungkas dokter,, ilmu yang dikuasainya, obat-obatan, dan kata-katanya___”

Aku ingin membagi sebuah cerita nyata, terkait prolog diatas. Cerita ini menyinggung senjata pamungkas yang ketiga, yaitu kata-kata. Betapa pentingnya setiap kata yang terucap dari seorang dokter. Sekali saja dokter itu salah berucap, atau pasien salah mengerti ucapan dokter, atau bahkan pasien tidak mematuhi ucapan dokter, maka kemungkinan terburuknya satu nyawa bisa melayang.

Maka, sebelum aku mulai menulis ceritanya, alangkah baiknya rekan-rekan sejawat sesama dokter benar-benar memperhatikan pentingnya senjata berupa “kata-kata” ini, atau mungkin kita biasa menyebutnya sebuah “edukasi” dan “nasihat” untuk pasien. Kita harus berusaha memberikan edukasi kepada pasien dengan sejelas mungkin, agar pasien dapat mengerti sepenuhnya mengenai keadaannya dan hal hal terkait pengobatan yang harus dijalaninya. Kita juga harus mensupport pasien dengan nasihat-nasihat yang positif agar pasien bisa bersabar menghadapi penyakitnya. Bukankah itu yang selalu diajarkan oleh dosen-dosen kita di kampus?! Mari kita renungkan lebih dalam lagi ^^

Ny. Ami, seorang wanita berusia 49 tahun tinggal di sebuah pelosok pedesaan. Beliau menderita penyakit gula atau dalam bahasa medisnya disebut diabetes mellitus. Beliau sudah menderita diabetes sejak 5 tahun yang lalu, tetapi ny. Ami jarang kontrol ke dokter mengenai kondisinya dengan alasan berobat ke dokter itu membutuhkan biasa besar, begitulah yang ada dalam mindset ny. Ami. Padahal keluarga ny. Ami termasuk masyarakat menengah ke atas,dan ny. Ami  seharusnya bisa teratur kontrol ke dokter tanpa harus merasa kesulitan mengenai biaya. Tetapi mindset ny. Ami dan keluarganya beranggapan bahwa kontrol ke dokter itu hanya membuang uang, karena selama ini ny. Ami pun tak pernah bisa sembuh total.

Suatu ketika ny. Ami merasa kondisi tubuhnya semakin memburuk. Akhirnya, dengan terpaksa beliau berobat ke dokter  di puskesmas. Setelah melakukan pemeriksaan, dokter mengatakan bahwa gula darah beliau sangat tinggi sehingga dokter memberikan beberapa resep obat hiperglikemik oral. Dokter juga meminta ny. Ami untuk mengatur pola makannya.

Sesampainya di rumah,  ny. Ami langsung meminum obat itu, tetapi ny. Ami tidak mau makan dengan alsan takut gula darahnya meningkat. Beberapa jam kemudian ny. Ami merasa lemas. Anggota geraknya sulit digerakkan. Keluarganya hanya menyuruh ny. Ami untuk beristirahat. Sampai keesokan harinya, kondisi ny. Ami malah makin memburuk. Ny. Ami sulit untuk makan dan minum. Kadang tubuhnya seperti tampak kejang. Nafasnya tersengal. Dengan kondisi yang sedemikian gawat, keluarga ny. Ami tetap bersikeras untuk tidak membawa beliau ke rumah sakit, lagi-lagi karena alasan biaya. Sampai pada akhirnya ny. Ami meninggal dunia beberapa hari kemudian.

Teman-teman dokter atau mahasiswa FK pasti bisa menebak penyebab kematian ny. Ami. Ya, HIPOGLOKEMI akibat efek samping obat hiperglikemik oral. Sebenarnya dokter tidak salah memberi obat hanya saja mungkin dokter tersebut kurang jelas dalam memberikan edukasi.  Terkait cara minum yang benar,  pola makan yang benar ketika dalam masa pengobatan, dan efek samping yang ditimbulkan obat tersebut harusnya disampaikan secara jelas sampai pasien mengerti. Jika kita analisa lebih jauh, sebenarnya ny. Ami masih bisa tertolong jika keluarganya cepat membawa beliau ke rumah sakit, namun masalah mindset yang keliru, membuat satu nyawa menghilang. Lagi-lagi disini peran dokter dibutuhkan. Pasien seharusnya mengerti dengan jelas tentang terapi yang harus dijalaninya, sampai masalah biaya yang harus dikeluarkannya. Pada kasus ini contohnya, keluarga ny. Ami merasa berobat ke dokter sia-sia karena ny. Ami tak kunjung sembuh. Padahal, sebagai dokter, seharusnya kita mampu mengedukasi pasien bahwa diabetes mellitus memang memerlukan pengobatan seumur hidup, karena gula darah yang harus selalu dikontrol.

Nah, bagaimana teman-teman?! Semoga kisah di atas bisa mengingatkan dan menjadi renungan bagi teman-teman sejawat.  Mari kita bersama belajar menjadi dokter yang lebih baik lagi dalam melayani pasien-pasien kita.

Salam Semangat~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s