Kisah Ibu dan Buah Apel

“Tak perlu hal yang rumit untuk mejelaskan cinta seorang ibu pada anaknya,, karena seringkali cintanya yang penuh ketulusan itu tertuang dalam kesederhanaan,, tanpa imbalan___”

apple

Suatu hari di pedesaan kaki Gunung  Canaya ada seorang ibu yang tinggal bersama dua orang anaknya. Di halaman rumah mereka ada kebun buah apel yang selalu panen setiap tahunnya. Jika masa panen tiba, si ibu dan kedua anaknya menjual sebagian apel-apel itu, dan menikmati sebagiannya lagi bersama sama di rumah. Biasanya si ibu mebuat pie apel, jus apel, atau roti isi apel untuk disantap anak-anaknya. Suatu ketika, si anak pertama memutuskan untuk merantau ke kota untuk menimba ilmu disana. Dengan berat hati sang ibu pun mengizinkannya.

Ketika tiba masa panen apel, si ibu berencana mengolah sebagian apelnya menjadi pie dan jus. Tetapi ketika sedang memasak di dapur,sang ibu menitikkan air mata.

“Ibu kenapa menangis?”, tanya anak bungsunya.

“Ibu sedih,nak. Kakak mu di kota sana tidak bisa menyantap apel-apel hasil panen sekarang”, jawab si ibu.

 

Kisah yang sederhana. Ya, memang tak perlu hal yang rumit untuk menjelaskan besarnya cinta ibu, karena cinta ibu yang tulus seringkali tertuang dalam kesederhanaan.

Jangan pernah tanya pengorbanan ibu  ketika melahirkan kita, karena semua orang pun tahu betapa kerasnya perjuangan ibu ketika itu. Tetapi terkadang mungkin kita tidak sadar akan cintanya yang selalu tertuang pada hal-hal kecil yang beliau lakukan untuk kita.

Suaranya yang selalu membangunkanmu setiap pagi, yang kadang terdengar menjengkelkan,,

Baju seragam yang sudah tersusun rapi dan siap pakai,,

Bekal kesukaanmu,,

Baju favoritmu yang sedikit sobek, dan tiba-tiba sudah terlipat dengan jahitan tangan rapi di bagian yang sobek,,

Dan banyak hal-hal kecil lainnya yang membuat kita merasa sangat kehilangan jika ibu tak lagi melakukannya untuk kita.

Jadi, pengorbanan ibu bukan saja ketika melahirkan, tetapi justru pengorbanan yang lebih besar ada selama beliau membesarkan kita, dengan cintanya yang tulus, yang tertuang dalam hal-hal yang sederhana.

-Cilandak, di hari hujan-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s