SERUNI KECIL DAN KAIN SULAMAN

“Jika kita tak menemukan keindahan pada satu sisi, cobalah bersabar dan lihatlah dari sudut pandang lain. Seperti kain sulaman yang terpasang pada pemidang,keindahannya yang tampak di bagian atas kain, terkadang tak selalu indah jika hanya dilihat dari bawah”.

 kerawang-gorontalo

Suatu hari seorang gadis kecil yang masih berusia sekitar 3 tahun, seruni namanya, menghampiri sang bunda yang tampak sibuk dengan kain dan benang benang sulam. Seruni kecil tak mengerti apa yang sedang dikerjakan sang bunda. Yang ia tahu hanya sang bunda meletakkan kain pada pemidang, lalu mulai merangkai benang benang yang ada membentuk suatu pola yang tidak ia mengerti.

“Bunda,,, bunda sedang apa? Mau diapakan kain dan benang benang yang ada itu?”, tanya seruni kecil.

“Bunda sedang menyulam,sayang”, jawab sang bunda.

“Tetapi bunda, mengapa kain yang aku lihat tidak tampak indah? ” , seruni kecil semakin penasaran karena ia hanya bisa melihat bagian bawah kain yang sedang disulam oleh sang bunda.

“Bunda akan membuat kain ini menjadi indah,sayang.”

“Iyakah,bunda? Bagaimana bisa? Aku tidak mengerti bagaimana bunda akan membuatnya menjadi indah, jika pada bagian bawahnya saja tampak pola pola tidak beraturan yang tidak bagus dilihat?”, ujar seruni kecil. “Kalau begitu, bolehkan bunda memperlihatkan padaku bagian atasnya?” serunya dengan wajah bersemangat.

“Tunggu saja dengan sabar ya,sayang. Bunda belum menyelesaikannya. Jika sudah selesai nanti, bunda akan memperlihatkan bagian atas kainnya”, sang bunda menjelaskan sambil tersenyum.

Hari berganti hari, seruni kecil selalu menyempatkan diri untuk menghampiri sang bunda yang sedang menyulam, kembali menanyakan kapan ia bisa melihat bagian atas kain yang sedang disulam. Karena seruni masih terlalu pendek untuk bisa melihat langsung bagian atas kain yang terpasang pada pemidang, Selama ini ia hanya bisa melihat kain bagian bawahnya saja, yang samasekali tidak tampak indah menurutnya. Yang ada hanya benang benang yang bersilangan tak beraturan tersulam pada kain tersebut.

Satu minggu sudah berlalu, sang bunda tak kunjung selesai. Seruni sudah mulai tak sabar menunggu.

“Bunda, mengapa aku tak juga melihat hasil sulaman yang indah pada kain itu?” tanya seruni.

“Itu karena kamu hanya melihat bagian bawahnya saja sayang. Bersabarlah sedikit lagi ya”.

“Apakah bunda berbohong?”, seruni mulai ragu. Sang bunda hanya menggeleng sambil tersenyum.

Karena tak puas dengan jawaban sang bunda, seruni mengumpat dalam hati. Ia  mulai bersikap acuh pada sang bunda. Tetapi, meski demikian sang bunda tetap giat dan dengan sabar berusaha menyelesaikan kain sulamannya.

Beberapa hari kemudian, sang bunda memanggil seruni, dan memperlihatkan kain hasil sulamannya secara utuh, termasuk bagian atas kain. Alangkah terkejutnya seruni. Ternyata, jika dilihat dari bagian atas, kain sulaman itu tampak bermotif indah. Seruni menyesal karena sudah bersikap tidak sabar. Ia juga merasa bersalah karena mengira sang bunda telah berbohong.

 

*sebuah dongeng masa kecil, semoga bisa mengingatkan kita untuk lebih berpikir luas dan cerdas, serta berprasangka positif dalam menghadapi berbagai hal*

 

     tribute to #tolakkriminalisasidokter  –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s