KOIN SAWER MAYIT

koin

Warung kopi Bi Ati sedang ramai. Beberapa warga yang lelah sepulang bertani atau berdagang, tukang ojek, pemuda-pemuda kampung yang pengangguran, atau bahkan orang yang sedang dalam perjalanan melewati Desa Papanjangan ini pun mampir disana. Semuanya sama, melepas penat di sore hari, menikmati kopi dan gorengan sambil sesekali membicarakan topik yang sedang hangat di desa ini. Hari ini cecep sengaja duduk disana sejak siang, mencari peruntungan. Siapa tahu Bi Ati menyuruhnya mencucikan gelas-gelas kotor dan memberinya upah, atau paling tidak Bi Ati yang iba memberikannya sisa gorengan yang tidak habis terjual. Cecep tidak tahu harus kemana lagi hari ini, perutnya lapar. Sudah sejak kemarin dia dan ‘emak’ di rumah tidak makan apapun.

‘Emak’ cecep baru-baru ini gila karena ditinggal suaminya yang mati, hanyut di Sungai Papanjangan sewaktu sedang mencari kodok. ‘Emak’ depresi. Mengurung diri, tak mau makan, tak mau bertemu siapa pun, dan suka tertawa atau bicara ‘ngalor-ngidul’ sendiri. Sudah dua hari ini pula badan ‘emak’ tiba-tiba demam tinggi dan menguning. Cecep, si anak tunggal yang baru berusia sebelas tahun tidak bisa berbuat banyak. Di benaknya yang peting hari ini dia dan ‘emak’ bisa makan dan bertahan hidup, toh sejak kecil pun keluarganya memang sudah terbiasa hidup susah.

“Cep, kamu teh teu sieun1 rumahna caket2 saung sawah Pak Kuwu3 ?”, bisik Ipul, anak Bi Ati yang usianya terpaut 5 tahun dengan cecep.

“Ah, sieun sih kang, tapi da mau bagaimana lagi”, ujar cecep pasrah.

Siang ini masyarakat Desa Papanjangan ramai dengan ditemukannya mayat kepala desa mereka. Pak kepala desa ditemukan tergantung di saung sawah miliknya sendiri. Menurut desas-desus warga, beliau tidak tahan malu, akibat perbuatan korupsinya terkuak oleh seorang anak muda lulusan universitas di kota yang menjadi aparat desa baru.

“Kenapa atuh kang Ipul, si Pak Kuwu teh harus gantung diri?” cecep bertanya karena penasaran.

“Yah, namanya juga malu,cep. Saya teh sempat heran sama si Pak Kuwu. Yang saya lihat, sehari-hari dia teh jarang ke kantor desa, kerjaannya cuma nguseup4 aja di Pamancingan Mang Usep. Tapi uangnya banyak, istrinya sering pamer emas atau baju-baju bagus waktu arisan bareng si ‘emak’. Eh, sihoreng5 teh itu uang rakyat yang dipake ”, Ipul bercerita dengan antusias.

“Maksudnya korupsi,kang?” cecep bertanya, meyakinkan diri.

“Yah, begitulah. Kata ‘emak’ saya mah, orang korupsi teh matinya ga tenang,cep”, jawab Ipul. “Besok pagi mayatnya baru mau dikubur. Tadi anaknya Pak Kuwu datang ke  warung, nukeuran6 uang recehan buat sawer mayit”, Ipul menambahkan.

“Wah, iya kang, bakal ada saweran ya? Dapet uang gratis atuh.” Cecep antusias.

“Eh, pamali cep mulung7 uang sawer mayit dari orang yang matinya tidak baik. Pelaku korupsi pula, jangan-jangan uangnya hasil korupsi. Hiiy~”.

Sawer mayit adalah tradisi yang masih dilakukan di Desa Papanjangan. Biasanya ketika jenazah akan diusung ke liang lahat, keluarga pengantar menyebarkan uang logam di sepanjang jalan menuju pemakaman. Anak-anak Desa Papanjangan pun selalu antusias dengan tradisi ini, karena mereka bisa memunguti uang logam itu untuk jajan. Cecep salah satunya. Ia akan menggunakan kesempatan sawer mayit ini agar bisa mengumpulkan uang untuk membeli obat ‘emak’. Tetapi di dalam hati cecep juga ragu, karena menurut kepercayaan orang kampung, uang sawer mayit dari jenazah yang matinya dengan cara tidak baik itu pamali untuk diambil. Mitosnya, orang yang memakai uang tersebut akan ikut mati sengsara juga.

“Ah, biarlah. Ini satu-satunya kesempatan supaya bisa membeli obat untuk ‘emak’. Saya tidak takut”, ujar cecep dalam hati, berusaha meyakinkan diri.

Esoknya, tepat pukul delapan pagi, cecep sudah bersiap untuk memunguti koin sawer mayit. Sesuai perkiraan, rombongan pengantar jenazah Pak Kuwu lewat, dan cecep langsung mengikutinya. Cecep mendapat cukup banyak uang logam, karena memang tidak ada lagi yang memungutinya selain dia. Anak-anak yang lain masih percaya penuh terhadap mitos yang beredar.

Cecep langsung mengayuh sepeda kecilnya ke desa sebelah, karena di desanya tidak ada toko obat. Cecep sangat bersemangat, karena ia tak ingin ‘emak’ sakit lagi. Tak apalah ‘emak’ disebut gila oleh orang-orang kampung, asalkan ‘emak’ sehat dan tidak meninggalkannya.

Sesampainya di rumah, cecep segera berlari ke kamar menemui ‘emak’. ‘Emak’ yang sudah terbujur kaku sejak pagi tadi, tidak bergerak samasekali. Wajahnya yang telah memucat memancarkan keteduhan dan tampak berseri-seri. Cecep menundukkan kepalanya dan menarik nafas dalam, lalu menangis. Tetapi jauh di lubuk hatinya ada perasaan lega. Setidaknya ‘emak’ tidak perlu mati dengan cara yang sengsara seperti Pak Kuwu.

*Kuningan, 12-2-14*

Terinspirasi dari koin-koin receh. Semoga bisa dimengerti ceritanya dan diambil hikmahnya ^o^

Notes:

  1. Sieun : takut
  2. Caket: dekat
  3. Pak Kuwu: Pak Kepala Desa
  4. Nguseup: memancing
  5. Sihoreng: ternyata
  6. Nukeuran : menukarkan
  7. Mulung: memungut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s