AYAH YANG PEMBERANI

“Ada banyak bentuk keberanian, termasuk keberanian mengutamakan orang lain,,,”

Perlu keberanian untuk mengutamakan orang lain dari diri sendiri. Keberanian untuk menyimpan keinginan kita dan keberanian untuk mengambil resiko yang akan didapat nantinya. Ayah, adalah orang yang pertama mengajarkan keberanian itu.

Suatu siang di sebuah cafeteria, aku duduk di sebelah ibu muda dan anak laki-lakinya yang berusia sekitar 5 tahun. Anak itu tampak memakai alat bantu dengar.

“Apa impian abang nanti kalau sudah besar?”, si Ibu bertanya perlahan sambil menggerakkan tanggannya seperti sedang menggunakan bahasa isyarat.

“Abang ingin jadi pemberani seperti pahlawan,bu”, si anak menjawab dengan konotasi yang kurang jelas. Mungkin dia tunarungu sejak kecil. “Apakah ayah seorang yang pemberani, bu?”, katanya menambahkan.

“Ayah adalah orang yang perberani,nak. Meski ayah tidak seperti pahlawan yang selalu kuat dan menang. Berani itu ada banyak bentuknya,. Salah satunya adalah keberanian untuk mengutamakan orang lain.”, jawab si Ibu. Lalu si Ibu melanjutkan cerita sambil menyuapinya roti.

“Ayah dan Ibu punya banyak impian dan selalu berusaha keras mencapainya bersama sama. Ketika kamu lahir, ayah mengajarkan ibu untuk menyimpan impian-impian kami di dalam sebuah laci. Ayah mengajarkan ibu cara bersabar menyimpan impian-impian itu sementara waktu, sampai kamu bisa tumbuh menjadi anak yang sehat dan baik,nak. Hingga nanti kamu sudah cukup dewasa, laci itu akan kami buka kembali. Ayah dan ibu akan membagi impian-impian kami yang sempat tertunda itu untuk bersama sama kita wujudkan, dengan bantuanmu.”, lantas si Ibu tersenyum.

“Abang adalah tumpuan impian ayah dan ibu. Jadi abang harus tumbuh jadi anak yang pemberani dan kuat. Abang tidak boleh merasa lemah meski abang berbeda dari yang lain. Janji sama ibu,ya”, si Ibu menyodorkan jari kelingkingnya, lalu jari kelingking si anak dan ibu bertautan, membuat ‘pinky promise’.

“Abang janji,bu”, kata si anak sambil tersenyum dengan mulut penuh makanan.

Entah si anak mengerti sepenuhnya atau tidak dengan apa yang dikatakan ibunya. Tapi setidaknya, aku ikut mengamini janji mereka siang itu dan menjadi saksi cerita tentang ayah yang pemberani.

image

-Cilandak, di Hari Isra Mi’raj-

Salam kecup dari jauh untuk ayah yang pemberani🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s