SEBUAH DONGENG TENTANG PERJALANAN

“Ada kalanya Tuhan menyiapkan rintangan bertubi bukan untuk menguji kesungguhan kita, tetapi sebagai pertanda bahwa kita harus berbalik arah dan mengambil jalan yang lain”

Saat itu aku memutuskan untuk memilih melewati sebuah jalan, yang pernah kau tunjukkan. Jalan menuju kamu, mungkin- setidaknya itu yang aku yakini pada saat itu. Saat di sepanjang jalan nya mulai banyak kerikil bertebaran dan terasa berpasir, aku mulai berpikir,
“Ah~ mungkin Tuhan sedang menegurku untuk mengemudi tidak terlalu cepat”.

Lalu semakin jauh aku melewatinya, aku tak kunjung menemukanmu. Yang kutemui malah beberapa lubang menganga menghiasi jalan, dan makin mempersulit perjalananku. Aku putuskan untuk menghentikan perjalanan sejenak. Hari pun sudah mulai gelap, matahari mulai pamit, membuatku makin ragu untuk melanjutkan perjalanan.

Aku mencari tempat penginapan, untuk mengisi kembali energiku yang mulai hilang. Ada sebuah rumah pondokan kecil, sekilas tampak nyaman untuk beristirahat. Aku tinggal disana sementara waktu, memikirkan ulang rencanaku untuk menemuimu.

“Haruskah aku berhenti di rumah ini saja dan menyerah untuk melewati jalan ini?”, pikirku.

Tapi, bukan aku namanya kalau tidak keras kepala bukan? Dan kekeras-kepalaan ku ini, menghasilkan sebuah keputusan untuk meninggalkan rumah pondokan itu dan melanjutkan perjalananku. Aku menamai perjalanan berikutnya ini dengan “kesempatan kedua”. Meski sekilas tampak nyaman, aku tahu rumah pondokan itu bukan tempatku.

Aku cukup kesulitan melalui perjalanan kedua ini, tapi toh aku tetap bahagia dengan keputusanku ini. Aku mencoba menikmati rintangan yang ada, sambil membayangkan betapa bahagianya jika setelah semua kesulitan ini, aku akan menemuimu di ujung perjalanan. Pikiranku dipenuhi imajinasi “Happy Ending” seperti yang selalu ada di kisah putri kerajaan.

Imajinasiku mendadak luntur, karena tiba-tiba ada badai besar menghadang. Kau memintaku untuk menjauhi badai itu. Tapi, menjauhi badai sama saja dengan menjauhi jalan menuju mu bukan? Aku mencoba memahami permintaanmu. Meski sebenenarnya, bukan permintaan untuk menjauh  yang ingin aku dengar. Aku inginnya kau menyakinkanku untuk meneruskan perjalanan menembus badai.Tapi, sudahlah~ Kuanggap kau khawatir dengan keselamatanku.

Aku mulai menjauhi jalan menuju mu, sambil berdoa agar badainya lekas pergi. Oh, tapi Tuhan rupanya menjawab doaku dengan cara lain. Badainya tak kunjung berhenti. Aku mengutuk keadaan yang seolah tak berpihak padaku ini. Dan hari-hariku berubah menjadi penuh tangisan penyesalan.

“Kenapa perjalanan ku yang kuberi nama ‘kesempatan kedua’ ini menjadi semakin sulit?”.

Sampai suatu saat, munculah seorang ibu peri, yang tanpa kuminta, dia mulai menunjukkan arah untuk berbalik, menuju jalan yang lain. Aku tak yakin apakah jalan ini akan mudah dilalui, atau akan penuh rintangan seperti yang sebelumnya. Tapi ibu peri itu menasehatiku,

“Nak, Tuhan sudah cukup memberi isyarat padamu untuk berbalik arah. Yang perlu kau lakukan adalah mengikuti petunjuk Nya, perlahan lahan mencoba jalan yang ditunjukkan oleh Tuhan, sambil terus berdoa memohon kelancaran. Jika memang jalan baru ini yang ditakdirkan untukmu, maka semuanya akan terasa mudah”, begitu petuah ibu peri.

Tak pernah ada penjelasan ilmiah mengenai sebuah kebetulan. Entah bagaimana bisa seorang ibu peri tiba-tiba datang dan menunjukkan ku jalan untuk berbalik arah. Mungkin Tuhan sengaja mengutusnya, tanpa sepengetahuanku. Terkadang keajaiban memang datang dengan cara yang mengejutkan dalam serangkaian peristiwa kebetulan.

Dan saat ini, aku mulai memutuskan memulai perjalanan baruku. Aku sepenuhnya membuka pikiranku untuk hal baru yang akan terjadi. Dan aku hanya bisa meminta pada Tuhan, semoga ada kebahagaiaan yang akan menungguku di ujung perjalanan ini.

Kehilangan hal yang biasa kita jalani memang sulit. Tapi aku percaya akan terasa makin mudah setiap harinya. Hanya karena ini jalan yang berbeda, bukan berarti ini jalan yang buruk kan? Siapapun yang sedang menanti di ujung perjalanan sana, semoga kau sudah memulai langkahmu untuk menjemput.

 

-Banten, 010416-

PATH WAY

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s